Tampilkan postingan dengan label AKHLAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKHLAK. Tampilkan semua postingan

Keutamaan Mengucapkan Salam Kepada Setiap MuslimYang Dikenal Maupun Tidak Dikenal

Sabtu, 21 April 2018


Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ   أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ  : تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Apakah (amal dalam) Islam yang paling baik? Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang (Muslim) yang kamu kenal maupun tidak kamu kenal”[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mengucapkan salam kepada setiap Muslim yang dikenal maupun tidak dikenal, karena ini termasuk amal kebaikan yang paling utama dalam Islam dan sebab besar untuk masuk Surga, dengan taufik dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُونَ حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلامَ بَيْنكُم
Kalian tidak akan masuk Surga sampai kalian beriman (dengan benar) dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai (karena Allâh Azza wa Jalla ). Maukah kalian aku tunjukkan suatu amal yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai ? Sebarkan salam di antara kamu”[2].
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat motivasi besar untuk mengucapkan dan menyebarkan salam kepada semua kaum Muslimin, yang kita kenal maupun tidak”[3].
Beberapa Mutiara Faidah Yang Dapat Kita Petik Dari Hadits Ini:
  • Makna yang terkandung dalam hadits ini adalah “Janganlah kamu mengkhususkan ucapan salam kepada orang tertentu karena kesombongan atau berpura-pura menampakkan kebaikan, tapi ucapkanlah salam dalam rangka mengagungkan syi’ar-syi’ar (lambang kemuliaan dan kebesaran) Islam dan mempertimbangkan persaudaraan sesama Muslim[4].
  • Mengkhususkan pengucapan salam hanya kepada orang yang dikenal adalah perbuatan buruk dan termasuk tanda-tanda datangnya hari Kiamat. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari Kiamat adalah jika salam diucapkan (hanya) kepada orang yang dikenal”. Dalam riwayat lain, “…seorang muslim mengucapkan salam kepada muslim lainnya, tidak lain karena dia mengenalnya[5].
  • Mengucapkan salam kepada orang Muslim yang dikenal dan tidak dikenal menunjukkan keikhlasan karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata, sikap merendahkan diri dan sekaligus menyebarkan salam yang merupakan syi’ar Islam[6].
  • Yang dimaksud dengan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan tidak dikenal dalam hadits ini adalah khusus hanya bagi orang-orang Muslim, berdasarkan penjelasan dari hadits-hadits shahih lainnya[7].
  • Dalam hadits ini juga terdapat keutamaan besar memberi makan kepada orang yang membutuhkannya, terutama orang-orang miskin, dengan niat ikhlas karena mengharapkan wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨﴾ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Dan mereka (orang-orang yang bertakwa) selalu memberikan makanan yang mereka sukai kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Dan mereka berkata): Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allâh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” [Al-Insȃn/76:8-9]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HSR. Al-Bukhâri, no. 12 dan 28 dan Muslim, no. 39
[2] HSR. Muslim, no. 54
[3] Kitab Syarhu Shahȋh Muslim, 2/36
[4] Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bȃri, 1/56
[5] HR Ahmad, 1/387 dan  ath-Thabrani dalam  al-Mu’jamul Kabȋr, 9/297. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani karena beberapa jalurnya yang saling menguatkan, dalam ash-Shahȋhah, no. 648
[6] Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bȃri, 11/21
[7] Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bȃri (1/56) dan (11/21).
Kunjungi dan join Telegram channel:
Aqidah, Tauhid, Manhaj https://t.me/almanhajaqidah
Permasalahan Shalat https://t.me/almanhajshalat
Permasalahan Muamalah https://t.me/almanhajdakwah
Permasalahan Fiqih, Ibadah https://t.me/almanhajpuasa
Permasalahan wanita https://t.me/almanhajmuslimah
almanhaj.or.id

KEJUJURAN


Kejujuran bak mutiara mahal yang semestinya diusahakan oleh setiap insan Mukmin dan Mukminah bagi diri mereka sendiri dan keluarga yang mereka sayangi. Ia merupakan salah satu bentuk karakter yang bersifat universal. Siapapun akan menyukai kejujuran dan membenarkan orang yang jujur serta mendudukan orang-orang yang suka berbuat dan berkata jujur.
Perintah Allâh Untuk Jujur
Secara khusus pun, Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan kita semua, kaum Mukminin untuk berlaku dan bertutur jujur.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar [At-Taubah/9:119].
Perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Untuk Jujur
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ. وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا
Hendaklah kalian jujur. Karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan. Dan kebajikan akan mengantarkan menuju Surga. Tidaklah seseorang senantiasa jujur dan berusaha kuat untuk jujur kecuali akan ditulis di sisi Allâh sebagai orang yang shiddiiq.[1]
Dalam hadits mulia ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kejujuran itu akan mengantarkan kepada tujuan luhur dan orang shiddîq akan mendapatkan kedudukan. Adapun tujuan luhur dari kejujuran adalah kebajikan dan kebaikan, dan kemudian dilanjutkan menuju Surga. Sedangkan kedudukan orang yang jujur adalah shiddîqîyyah, sebuah kedudukan di bawah kedudukan nubuwwah (kenabian).
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
Dan barang siapa yang menaati Allâh dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisâ/4:69]
Seorang Mukmin Tidak Pantas Berdusta
Seorang Mukmin tidak sepantasnya melakukan dusta dalam ucapannya. Hal ini dikarenakan dusta merupakan sifat yang melekat pada diri orang-orang munafiqin.
Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang mereka:
وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
Dan Allâh mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang pendusta.[Al-Munâfiqûn/63:1]
Orang Mukmin tidak berdusta karena ia mengimani ayat-ayat Allâh dan beriman kepada Rasul-Nya. Ia mempercayai bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
Sesungguhnya dusta itu akan menyeret kepada al-fujûr. Dan sesungguhnya tindak kejahatan itu akan menyeret menuju Neraka. Dan tidaklah seseorang itu sering berdusta dan sengaja untuk berdusta hingga akan ditulis di sisi Allâh sebagai pendusta.[2]
Betapa buruk akhir dari kedustaan. Betapa rendah martabat seorang yang berdusta. Kedustaan akan mengakibatkan melakukan fujûr (tindakan jahat), yaitu menyimpang dari jalan yang lurus, dan lalu terjerumus ke dalam Neraka. Orang yang berdusta itu orang rendah, sebab ia ditulisi di sisi Allâh sebagai pendusta. Itulah seburuk-buruk julukan bagi seseorang.
Seseorang di muka bumi ini akan gerah bila disebut-sebut sebagai pendusta di tengah masyarakatnya, bagaimana perasaannya bila di tulis di sisi Rabbnya sebagai pendusta?. Seorang pendusta dalam hidupnya, tidak akan dipercayai lagi saat mengabarkan sesuatu atau berbisnis dengan orang lain. Citra buruk pun akan tetap melekat padanya setelah  meninggal.
Allâh Azza wa Jalla telah memadukan antara dusta dengan penyembahan terhadap berhala-berhala. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.[Al-Hajj/22:30]
Apakah setelah ini, masih pantaskah ada seorang Mukmin yang menjadikan dusta sebagai kebiasaan dalam akhlaknya dan jalan dalam kehidupannya?!.
Orang Jahiliyah Menghindari Dusta
Dahulu, orang-orang kafir dalam masa jahiliyah menjauhi dusta dan tidak menjadikannya sebagai karakter hidup mereka atau sebagai jalan meraih apa yang mereka inginkan. Lihatlah Abu Sufyân sebelum ia memeluk Islam, saat ia bersama rombongan dagang berada di Syam. Tatkala Heraklius mendengar keberadaan mereka di sana, ia pun mengutus seseorang agar mendatangkan Abu Sufyân ke hadapannya untuk ditanya tentang Muhammad bin ‘Abdillâh, orang yang mengaku sebagai nabi. Saat itu, Abu Sufyân mengatakan, “Seandainya bukan karena malu, kalau orang-orang tahu aku berdusta, maka aku pastilah akan bicara bohong (tentang Muhammad)”[3]
Mari kita perhatikan, seseorang dalam kekufuran dan jahiliyahnya, enggan ketahuan berdusta walaupun sekali saja, padahal ia memandang kedustaannya tentang Muhammad bin Abdillah akan mendatangkan maslahat bagi dirinya.
Maka, sangat memprihatinkan bila ada sebagian orang dari umat ini, sering melakukan dusta. Ini sebenarnya menjadi indikator keburukan. Bila seseorang sudah melakukannya sekali dua kali, maka akan mudah baginya untuk mengulang-ulangnya kembali, sehingga akhirnya menjadi kepribadian dan karakter baginya.
Kesalahan dan keburukan dusta akan lebih parah bila diiringi dengan mengambil hak orang lain, membela orang yang salah atau digunakan untuk mencoreng citra orang yang baik-baik.
Berdusta Untuk Membuat Orang Tertawa
Bentuk dusta lainnya yang terkadang tidak disadari sebagai bentuk kebohongan, seseorang mengada-adakan cerita lucu atau anekdot untuk membuat orang lain tertawa.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan orang seperti ini dalam sabdanya:
وَيْلٌ لِلَّذِيْ يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ. وَيْلٌ لَهُ ثُمَّ وَيْلٌ لَهُ
Celaka, bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa. Celaka baginya, celaka baginya. [4]
Dusta Orang Tua Kepada Anak
Sebagian orang tua tergelincir dalam dusta di hadapan anak-anaknya, lantaran sekedar ingin menenangkan sang buah hati. Mereka janjikan ini itu kepada anak-anak, padahal tidak ada niat sekalipun untuk merealisasikannya. Sikap demikian ini, jelas sudah menjerumuskan orang tua ke dalam dusta dan meremehkannya. Maka, jangan salahkan siapa-siapa, bila anak secara tidak langsung telah dididik untuk berdusta.
Mari kita simak riwayat dari ‘Abdullâh bin ‘Amir  yang pernah dipanggil sang ibu. Sang ibu mengatakan, “Kesinilah, aku beri engkau (sesuatu)”. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah yang akan engkau berikan kepadanya?”. Ia menjawab, “Kurma”. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَمَّا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا لَكُتِبَتْ عَلَيْكِ كَذِبَةً
Jika engkau tidak akan memberinya sesuatu, maka akan tertulis satu kedustaan atas dirimu (HR. Abu Dawud dan  Al-Baihaqi )
Penutup
Jujur adalah akhlak mulia, yang akan memuliakan pemilik sifat itu mulia  di sisi Allah dan dipercaya oleh sesama manusia. Dan seorang Muslim melakukannya karena mengamalkan perintah Allah dan perintah Rasul-Nya, dan mendorong anak-anak dan anggota keluarganya untuk selalu komitmen dengan akhlak mulia ini. Wallâhu a’lam.
(Diadaptasi dari adh-Dhiyâ’u al-Lâmi’u minal Khuthabil Jawâmi’, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, Dar Tsurayya, Cet. I, Th.1425, 5/376-383).
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] HR. Al-Bukhâri no.6094 dan Muslim no.2607.
[2] HR. Al-Bukhâri no.6094 dan Muslim no.2607
[3] HR. Al-Bukhâri no.7
[4] HR. ath-TsalâtsahIsnâdnya qawi.
almanhaj.or.id

Sifat Sabar Sebagai Penolong Orang Yang Beriman


Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allâh bersama orang-orang yang bersabar [al-Baqarah/2:153]
Ayat yang mulia ini menunjukkan agungnya keutamaan sifat sabar sebagai sebab turunnya pertolongan dan penjagaan dari Allâh Azza wa Jalla kepada hamba-Nya yang beriman.
Imam asy-Syaukani berkata, “Dalam ayat ini terdapat motivasi terbesar bagi hamba-hamba Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk menetapi sifat sabar ketika menghadapi segala kesusahan, karena barangsiapa yang Allâh bersamanya, maka dia tidak akan takut (menghadapi) segala rintangan (apapun) meskipun (sebesar) gunung”[1]..
Syaikh ‘Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di berkata: “(Dalam ayat ini) Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam (menghadapi) urusan-urusan agama dan dunia mereka, maka sifat sabar merupakan penolong besar dalam menghadapi segala urusan, maka tidak ada jalan bagi orang yang tidak bersabar untuk mencapai apa yang diinginkannya (karena tidak adanya pertolongan dari Allâh baginya)… Kebersamaan Allâh dalam ayat ini adalah kebersamaan khusus yang mengandung makna kecintaan, bantuan, pertolongan dan kedekatan Allâh (bagi hamba-hamba tersebut). Maka ini merupakan kemuliaan besar bagi orang-orang yang memiliki sifat sabar. Kalau seandainya tidaklah ada keutamaan bagi orang-orang yang bersabar kecuali mendapatkan kebersamaan yang khusus dari Allâh ini, maka cukuplah hal ini sebagai keutamaan dan kemuliaan (besar)”[2].
Beberapa Faidah Penting Yang Terkandung Dalam Firman Allâh Azza Wa Jalla DAtas:
1. Arti sabar secara etimologi adalah al-habs (menahan/mencegah), maka makna sabar adalah menahan diri dari berputus asa, dan menahan lisan dari keluh kesah, serta menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allâh Azza wa Jalla [3]. Inilah arti kesabaran yang indah yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan dalam firman-Nya:
فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا
 “Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah” [Al-Ma’ârij/70:5].
2. Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Makna kesabaran yang indah adalah kesabaran yang tidak disertai sikap berkeluh kesah dan mengadu kepada selain Allâh”[4].
3. Adapun hakikat sifat sabar, adalah seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, yaitu: “akhlak mulia yang termasuk perangai jiwa (yang luhur), dengannya seorang hamba akan menjauhi perbuatan buruk dan tidak terpuji. Sifat ini merupakan bagian dari kekuatan jiwa yang menjadikan baik dan lurus keadaannya”[5].
4. Rukun sabar ada tiga yaitu: menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allâh Azza wa Jalla , menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang (Allâh Azza wa Jalla), seperti menampar wajah (ketika terjadi musibah), merobek pakaian, memotong rambut dan sebagainya. Barangsiapa yang menunaikan ketiga rukun ini dengan benar maka semua musibah yang menimpanya akan berganti menjadi anugerah yang mulia [6].
5. Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla , sabar dalam meninggalkan larangan-larangan-Nya, dan sabar dalam menghadapi ketentuan takdir-Nya yang menimpa manusia[7].
6. Imam Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata: “Kesabaran itu adalah pengakuan seorang hamba kepada Allâh Azza wa Jalla atas musibah yang menimpa dirinya (bahwa itu semua dari sisi-Nya) dan pengharapannya terhadap balasan pahala di sisi-Nya. Sungguh terkadang seorang hamba bersedih, akan tetapi dia berusaha menahan diri, tidak terlihat darinya kecuali kesabaran”[8].
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Kitab Fathul Qadîr (1/246).
[2] Kitab Taisîrul Karîmir Rahmân (hlmn 74).
[3] Lihat kitab ’Idatush shâbirîn (hlmn 7).
[4] KItab Fathul Qadîr (5/404).
[5] KItab ’Idatush shâbirîn wa dzakhîratusy syâkirîn (hlmn 36 – cet. Dar Ibnil Jauzi, Arab Saudi).
[6] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam  kitab al-Wâbilish shayyib (hal. 11).
[7] Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam  kitab Latha-iful ma’ârif (hal. 177).
[8] Dinukil oleh mam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (1/268).
almanhaj.or.id

Perkara Penting Yang Dilalaikan Saat Berbuat Baik Kepada Manusia


Bermuamalah yang baik kepada sesama manusia, sekalipun kepada non-Muslim sudah menjadi karakter seorang Muslim. Ia akan menjadi kawan yang amanah bagi teman-temannya, tetangga yang baik bagi para tetangganya, mitra yang jujur terhadap rekan-rekan bisnisnya, sosok yang baik bagi siapa saja yang sudah lama ia kenal maupun orang yang baru saja ia temui dalam kehidupannya.  Ia ringan tangan dalam membantu orang lain. Ia orang yang menjaga kepercayaan orang lain. Dan ia orang yang menyenangkan orang-orang yang bergaul dengannya.
Ada sebuah perkara sangat esensial dan penting, yang dilalaikan oleh kebanyakan orang dari kita saat bermuamalah yang baik kepada sesama, padahal kebutuhan kita terhadap hal tersebut mendesak dan tidak bisa diabaikan sama sekali. Apakah hal tersebut?. Jawabnya ialah ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla ketika seseorang melakukan kebaikan dan bersikap baik kepada sesama. Alangkah masih banyak orang yang sukaberbuat ihsân (baik) kepada sesama dengan berbagai jenis bentuk kebaikan. Namun, sebagian dari mereka lalai untuk menata niatnya terlebih dahulu, supaya kebaikan yang ia perbuat bagi orang lain karena motivasi lillâhi ta’âla.
Ikhlas dalam berbuat baik kepada sesama manusia merupakan salah satu syarat diterimanya perbuatan baik seseorang kepada sesama. Sebab, sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla tidak menerima sebuah amal kebaikan bila diniatkan untuk mengharap wajah-Nya, mencari pahala dari sisi-Nya. Hanya di sisi-Nyalah, segala kebaikan, keutamaan, pahala dan kebajikan.
Maka, hendaklah setiap Muslim mengetahui bahwa ia sangat perlu untuk menyadari bahwa apa-apa yang ada di sisi Allâh Azza wa Jalla lebih bermanfaat dan lebih berguna daripada apa yang ada di sisi manusia.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh akhirat, kecuali nereka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.  [Hûd/11:15-16]
Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْكَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
Barang siapa dunia menjadi fokus pikirannya, Allâh akan menceraiberaikan urusannya, dan menjadikan kemiskinan berada di antara dua matanya, serta tidaklah dunia datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa akhirat adalah motivasi niatnya, maka Allâh akan satukan urusannya, dan Dia menjadikan kecukupan dalam hatinya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan…..  [HR. Ibnu Mâjah no.4105. Lihat ash-Shahîhah no.950]
Dua dalil di atas bersifat umum. Sedangkan contoh dalil khusus yang berkenaan dengan pembahasan sekarang, di antaranya firman Allâh Azza wa Jalla :
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia”. [An-Nisâ`/4:114]
Apa yang disebutkan ayat, yaitu sedekah, amar ma’ruf dan mendamaikan manusia adalah amalan-amalan besar. Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan sebuah syarat diterimanya amal-amal tersebut dan adanya pahala bagi orang yang melakukannya melalui penggalan ayat selanjutnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
 “Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allâh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. [An-Nisâ`/4:114].
Ayat di atas dengan jelas memuat pelajaran penting bahwa Allâh Azza wa Jalla memberikan pahala dan ganjaran perbuatan baik yang bermanfaat bagi manusia ketika dikerjakan dengan niat mengharapkan keridhaan Allâh Azza wa Jalla . Maka, cukuplah ayat ini sebagai landasan dalil disyaratkannya ikhlas dalam melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain dan berbuat baik kepada sesama.
Pada ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang mulia yang menghuni surga:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
 “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. [Al-Insân/76:8]
Amalan yang disebutkan dalam ayat tersebut amalan baik yang dirasakan oleh orang lain. Mengapa mereka melakukan itu?. Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mereka mengatakan:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allâh. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. [Al-Insân/76:9]
Jadi, seorang Muslim bila melakukan kebaikan bagi orang lain dengan penuh ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla dalam melakukannya, maka Allâh Azza wa Jalla akan memberinya balasan pahala, mengangkat derajatnya, memudahkannya istiqamah dan menambahkan keutamaan dan karunia baginya.
Kebaikan yang diperbuat seseorang dengan motivasilillâhi ta’âla kepada kedua orang, saudara-saudara, pasangan hidupnya,  anak-anaknya, teman, dan tetangga bahkan kepada orang kafir sekalipun dengan harapan ia dapat hidayah dari Allâh Azza wa Jalla , maka orang tersebut akan dibalas dengan kebaikan dan pahala oleh Allâh Azza wa Jalla .
Dan sebaliknya, jika syarat asasi ini lenyap dari hati kaum Muslimin, maka perbuatan-perbuatan baik mereka kepada sesama rusak lagi tertolak di sisi Allâh Azza wa Jalla , walaupun mereka sering melibatkan diri dalam even-even yang bermanfaat bagi manusia. Orang yang berbuat baik bukan terdorong oleh niat baik untuk mengharap pahala dari Allâh Azza wa Jalla , akan tetapi untuk mendapatkan imbalan duniawi semata, mendongkrak citranya, dan motivasi-motivasi dunia lainnya. Maka hal demikian ini termasuk perkara yang menyebabkan terjadinya kerusakan dalam kehidupan, tersulutnya api fitnah dan datangnya berbagai musibah. Semoga Allâh Azza wa Jalla melindung kita semua dari ancaman itu.
Ada sebagian anak yang menampakkan dirinya perhatian kepada kedua orang tuanya. Ia tampak sangat berbakti kepada mereka. Ia memenuhi kebutuhan sandang pangan orang tua. Bahkan terkadang sampai menghalangi saudaranya untuk mengambil bagian dalam birrul walidain itu. Namun, ia tidak melakukannya dengan tulus ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla .  Ia melakukannya guna mencari muka di hadapan orang tua, agar mendapat wasiat khusus dalam pembagian harta warisan, misalnya. Betapa buruk niatnya dan alangkah meruginya anak tersebut!.
Contoh lainnya, dalam menangani anak-anak yatim dan berbagi dengan mereka.  Anak-anak yatim mendapat perhatian ajaran Islam. Al-Qur`ân dan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuat pesan-pesan untuk memperlakukan mereka dengan baik, menangani urusan mereka, mendidik mereka dan memelihara harta-benda mereka. Maka berdirilah panti-panti anak-anak yatim. Sebagian orang pun mendaulat diri sebagai orang tua asuh bagi anak-anak yatim. Seorang kerabat mengambil tanggung-jawab pendidikan anak yatim dari keluarga besarnya.
Akan tetapi, dalam pengamatan dan penelusuran, ada indikasi tindakan kezhaliman terhadap anak-anak yatim yang berada di bawah pengawasan mereka. Seperti, pemanfaatan anak-anak yatim bagi kepentingan pengurus panti atau wali-walinya, dengan memperlakukan mereka seolah-olah pembantu, menyalahgunakan wewenang dalam mempergunakan harta anak yatim, makan harta anak yatim, atau menyunat uang santunan dan subsidi yang diperuntukkan anak yatim, memukuli mereka karena sebab remeh, apalagi bila bermasalah dengan anak-anak kandungnya sendiri.
Sikap dan perlakuan buruk wali-wali anak yatim tersebut muncul karena tidak adanya murâqabah kepada Allâh Azza wa Jalla dan rasa takut kepada-Nya serta tidak ikhlas dan tulus dalam mengurus mereka. Mereka lupa firman Allâh Azza wa Jalla berikut:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah, “Mengurus mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, aka mereka adalah saudaramu dan Allâh mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan”. [Al-Baqarah/2:220]
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala”. [An-Nisâ`/4:10].
Ini sekedar contoh perampasan hak orang lain dengan mengatasnamakan tolong-menolong. Kehidupan manusia sarat dengan rekayasa, niat buruk, pungutan liar, pemaksaan kehendak dalam kerangka ‘berbuat baik dan menolong orang lain serta meringankan beban sesama’, kecuali orang-orang yang dirahmati Allâh Azza wa Jalla .
Realita lain yang memprihatinkan dan sekaligus aneh, apa yang dilakukan oleh calon-calon wakil rakyat, baik tingkat daerah atau pusat, dengan mendatangi daerah kantong-kantong orang-orang miskin sambil membawa paket-paket sembako dan bantuan sosial lainnya untuk mengambil hati masyarakat. Mereka bertujuan mendapatkan simpati dan dukungan, dan pada gilirannya masyarakat mau memberikan suara bagi calon-calon wakil rakyat tersebut. Apabila ajang pilihan wakil rakyat usai, usai sudah empati terhadap masyarakat miskin. Dalam konteks ini, orang-orang miskin hanya menjadi komoditas bagi kepentingan golongan tersebut.
Marilah kita sadari, betapa wajibnya kita menjalin hubungan baik dengan sesama sesuai dengan panduan syariat Allâh Azza wa Jalla dengan berharap pahala-Nya, ridha-Nya dan mengharap Dia berkenan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-Nya serta menyelamatkan kita dari berbagai keburukan di dunia dan akhirat, tanpa menunggu rasa terima kasih mereka ataupun pujian dan sanjungan manusia. Wallâhu a’lam.
(Diadaptasi dariKhuthabu Fadhilatis Syaikh Muhammad bin ‘Abdillâh al-Imâm, Cet. I. Penerbit Imam al-Wâdi’I, dengan judul Al-ikhlâsh fî al-Ihsân ilâ an-Nâsi hlm. 142-150.)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
almanhaj.or.id

Meraih Rahmat Allâh Azza Wa Jalla


Oleh
Ustadz Abu Minhal Lc
Rahmat terhadap Allâh Azza wa Jalla merupakan kebutuhan primer seorang hamba untuk hidup di dunia ini. Cakupan rahmat Allâh amatlah luas, karena Allâh Azza wa Jalla  memiliki nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm. Rahmat-Nya luas, meliputi segenap makhluk-Nya.
Tanpa rahmat, manusia akan binasa dan rugi. Simaklah ayat berikut:
قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Nuh berkata, Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan (memberi rahmat) kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” [Hûd/11:47].
Rahmat Allâh Azza Wa Jalla Ada Dua Macam:
1. Rahmat ‘Âmmah (umum) yang mencakup seluruh makhluk-Nya, termasuk orang-orang kafir sekalipun. Rahmat ini bersifat Jasadiyyah Badaniyyah Dunyawiyyah (rahmat fisik duniawi), seperti pemberian makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain.
2. Rahmat Khashshâh (rahmat khusus) yang bersifat Îmâniyyah Dîniyyah baik di dunia maupun akhirat, dalam bentuk taufik untuk berbuat ketaatan kepada Allâh, kemudahan untuk berbuat baik, diteguhkan keimanannya dan diberi hidayah menuju jalan yang lurus dan dimuliakan dengan masuk ke dalam Surga serta selamat dari Neraka. [1]
Dengan demikian, seorang hamba tidak bisa lepas sesaat pun dari dua jenis rahmat Allâh Azza wa Jalla di atas. Dan seorang Muslim memandang rahmat jenis kedua lebih penting dan utama ketimbang yang pertama.
Pangkal Memperoleh Rahmat Dari Allâh Azza Wa Jalla
Untuk itu, insan Muslim yang menghendaki rahmat Allâh Azza wa Jalla selalu menaunginya dan senantiasa mendapatkan limpahan dan tambahan rahmat-Nya, maka hendaklah ia menempuh langkah-langkah yang mendatangkan rahmat baginya. Semua faktor itu, kata Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah, terhimpun pada firman Allâh Azza wa Jalla,
إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Sesungguhnya rahmat Allâh amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [Al-A’râf/7:56].
Yaitu, menjalankan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan baik dan berbuat baik  kepada sesama hamba Allâh Azza wa Jalla . Dan menyayangi semua makhluk termasuk pengaruh yang muncul dari sikap baiknya kepada para hamba Allâh Azza wa Jalla . [2]
Maka seorang hamba semakin besar ketaatannya kepada Allâh Azza wa Jalla , kian dekat dengan-Nya dalam taqarrub kepada-Nya, maka akan semakin besar bagian rahmat yang ia dapatkan dari Allâh Azza wa Jalla. [3]
Pangkal Jauhnya Rahmat Allâh Azza Wa Jalla Dari Seorang Hamba
Bila perbuatan baik yang sesuai agama dan diniatkan untuk Allâh Azza wa Jalla  menjadi pangkal seluruh faktor bagi seseorang Muslim untuk meraih rahmat dari Rabbnya, maka mafhûm mukhâlafahnya, maksiat-maksiat yang dilakukan seorang hamba akan menjauhkan rahmat Allâh  dari dirinya.
Mari kita simak istimbath Syaikh As-Sa’di rahimahullah melalui firman Allâh Azza wa Jalla berikut ini:
يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا
Wahai bapakku, janganlah engkau menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Penyayang [Maryam/19:44]
Dalam penyebutan maksiat yang dikaitkan kepada nama Allâh ar-Rahmân termuat adanya isyarat bahwa maksiat-maksiat itu akan menghalangi seorang hamba dari rahmat Allâh  dan menyekat pintu-pintunya, sebagaimana ketaatan merupakan faktor terpenting untuk meraih rahmat-Nya. [4]
Beberapa Faktor Teraihnya Rahmat Allâh Melalui Ayat-Ayat Al-Qur`ân
Maksud dari pembahasan ini adalah merangkum ayat-ayat al-Qur`ân yang secara eksplisit menyebut suatu amalan, atau memerintahkan suatu perbuatan, lalu ayat tersebut ditutup dengan la’allakum turhamûn (supaya kamu mendapat rahmat).
1. Taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan taatilah Allâh dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. [Ali ‘Imrân/3:132]
Amal-amal kebajikan dan ketaatan akan mendatangkan ridha Ar-Rahmân, masuk surga dan teraihnya rahmat. Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Dan taatilah Allâh dan Rasul“ dengan menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan “supaya kamu diberi rahmat “.
Jadi, taat kepada Allâh dan Rasul-Nya merupakan faktor teraihnya rahmat. Hal ini sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Maka Aku akan tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” [5]
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Bila kalian taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul, niscaya akan kalian akan mendapatkan rahmat. Dan rahmat itu terwujud dalam teraihnya hal-hal yang diinginkan dan hilangnya hal-hal yang dikuatirkan.”.
Beliau rahimahullah melanjutkan, bahwa rahmat yang dimaksud dalam ayat adalah rahmat khusus yang berhubungan dengan kebahagiaan di dunia dan akhirat, karena rahmat umum sudah kita dapatkan setiap saat, bahkan orang kafir pun merasakannya. [6]
Syaikh Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri mengatakan, “Wajibnya taat kepada Allâh dan Rasul-Nya untuk mendapatkan rahmat ilahiyyah, yaitu maaf dan ampunan (dari Allâh) dan masuk ke dalam Surga”. [7]
2. Mengikuti Kandungan Al-Qur`ân
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan Al-Qur`ân itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. [Al-An’âm/6:155]
Al-Qur`ânul Karîm memuat kebaikan yang melimpah dan ilmu yang banyak. Ia menjadi sumber pengetahuan bagi seluruh disiplin ilmu dan dari sana, keberkahan dicari. Tidak ada kebaikan kecuali diserukan dan didorong oleh al-Qur`ân. Al-Qur`ân juga memuat berbagai macam hikmah-hikmah dan kemaslahatan.  Dan tidak pula ada keburukan kecuali al-Qur`ân melarangnya dan memperingatkan darinya, serta menjelaskan berbagai faktor agar orang menjauhinya dan selamat dari dampak buruknya.
Maka, patutlah al-Qur`ân diikuti dalam perintah dan larangannya. Juga bangunlah asas-asas agama dan cabang-cabangnya melalui al-Qur`ân.
Maka, termasuk faktor penting untuk menggapai rahmat adalah mengikuti kitab suci ini dengan memahami dan mengamalkan kandungannya.[8]
3. Menyimak Bacaan al-Qur`ân
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Al-Qur`ân, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.  [Al-A’râf/7:204]
Ini adalah perintah umum terhadap setiap orang yang mendengarkan al-Qur`ân tengah di baca, agar ia melakukan istimâ’ (menyimak) dan inshât (memperhatikan). Istimâ’ ialah menyimak dengan telinga, fokus dengan hati dan mentadabburi apa yang ia dengar. Sementara inshât adalah meninggalkan pembicaraan atau apa saja yang menyibukkannya dari menyimak bacaan al-Qur`ân.
Orang yang bersikap demikian tatkala al-Qur`ân dibaca, maka ia akan memperoleh kebaikan yang banyak, ilmu yang melimpah, keimanan yang kontinyu lagi selalu diperbaharui, serta hidayah dan pemahamannya terhadap agama yang kian bertambah. Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla memberikan rahmat bagi orang melalui dua sikap tersebut. Dan perintah ini lebih kuat lagi bila seseorang mendengarkan bacaan al-Qur`ân di dalam shalat-shalat jahriyyah[9]
4. Menegakkan Shalat Dan Menunaikan Zakat
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat. [An-Nûr/24:56]
Barang siapa mengharapkan rahmat, maka inilah jalannya. Dan barang siapa mengharapkannya tanpa menegakkan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Rasul, maka orang itu hanyalah pemimpi lagi dusta. Harapan-harapan dusta telah melalaikan hatinya[10].
5. Beristighfar
قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ ۖ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dia berkata, “Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan?. Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allâh, agar kamu mendapat rahmat”. [An-Naml/27:46]
Sesungguhnya rahmat Allâh Azza wa Jalla dekat kepada orang-orang yang Muhsinin, dan orang yang bertaubat termasuk orang-orang Muhsinin.[11]
6. Mendamaikan Yang Sedang Bertikai
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allâh supaya kamu mendapat rahmat. [Al-Hujurât/49:10]
Allâh Azza wa Jalla perintahkan Rasul-Nya  untuk memenuhi hak-hak kaum Mukminin dan segala sesuatu yang menyebabkan mereka saling akrab dan menyayangi serta terjalinnya hubungan antara mereka. Semua ini ditujukan untuk menguatkan hak sebagian orang yang menjadi kewajiban sebagian yang lain. Di antaranya, bila terjadi pertikaian antara mereka yang mengakibatkan hati mereka bercerai-berai, saling membenci dan saling menjauh, hendaknya kaum Mukminin melakukan ishlah (perbaikan) antara saudara-saudara mereka (seiman) dan berusaha keras menempuh cara untuk melenyapkan rasa benci mereka.
Kemudian Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk bertakwa dan memberikan balasan  rahmat atas ketakwaan dan memperhatikan hak kaum Mukminin. Allâh Azza wa Jalla berfirman: “supaya kamu mendapat rahmat. Apabila rahmat telah teraih, maka kebaikan dunia dan akhirat pun akan tergapai. [12]
Penutup
Dengan melihat betapa eratnya turunnya rahmat Allâh Azza wa Jalla dengan pengamalan kandungan-kandungan al-Qur`ân, maka setiap Muslim berkewajiban untuk berusaha keras memahami isi kitab sucinya, dan mengamalkannya dalam kehidupannya.
Ia tidak boleh merasa cukup hanya dengan membaca atau menghafalnya. Ia harus mengamalkannya. Syaikh Shâlih Al-Fauzân sudah mengingatkan bahwa yang tidak mengamalkan kandungan al-Qur`ân, walaupun ia termasuk orang yang sering sekali membacanya, atau banyak hafalannya, orang tersebut belumlah memenuhi kewajiban melakukan nashîhah kepada Kitâbullâh dengan baik.[13]
Semoga Allâh Azza wa Jalla berkenan memudahkan kita mengamalkan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, sehingga rahmat-Nya yang khusus selalu menaungi kehidupan kita. Amin.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Fiqhul Asmâ`il Husnâ hlm. 102.
[2]  Bahjatu Qulûbil Abrâr hlm.180.
[3]  Fiqhul Asmâ`il Husnâ hlm. 101.
[4]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 444.
[5]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm.115.
[6]  Tafsir Surah Âli Imrân 2/165.
[7]  Aisarut Tafâsîr 1/376.
[8]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 243.
[9]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm.276.
[10]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 522.
[11]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 555.
[12] Taisîrul Karîmir Rahmân hlm.744.
[13]  Al-Minhatur Rabbaniyyah
almanhaj.or.id
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ERA DAKWAH - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger